Sandal Bandol, alas kaki sederhana yang pernah begitu merajai pasar dan menjadi simbol gaya hidup praktis di era 90-an hingga awal 2000-an, kini perlahan mulai kehilangan gaungnya. Terbuat dari material karet yang kokoh dan memiliki desain yang khas, sandal Bandol menawarkan durabilitas luar biasa dan harga yang sangat terjangkau, menjadikannya pilihan utama bagi semua kalangan,
Sandal bandol, sebagai salah satu produk kerajinan dan bagian dari warisan budaya lokal, memerlukan perhatian serius dari pemerintah daerah untuk menjamin kelestariannya.
Adalah Bapak Madseh, warga Banaran, Banyumas yang pertama mengawali pembuatan alas kaki dengan bahan dasar ban mobil bekas ini. Pada waktu itu  sandal yang dibuat masih sangat sederhana, dengan cara pengerjaan yang sangat sederhana pula.
Sandal Bandol, yang seringkali diidentikkan dengan alas kaki sederhana dan praktis, sering kali memiliki kaitan erat dengan identitas suatu daerah, khususnya di Jawa. Alas kaki ini, yang umumnya terbuat dari bahan bekas atau daur ulang, tidak hanya berfungsi sebagai pelindung kaki, tetapi juga menjadi simbol kerja keras dan kreativitas masyarakatnya. Di beberapa wilayah, Bandol bukan
Harapan utama mereka adalah adanya stabilitas dan keberlanjutan pasar, di mana produk otentik mereka dapat bersaing secara adil melawan produk pabrikan massal.